JAKARTA, matacandra,online – Pasar modal Indonesia diguncang keras. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 6,8 persen pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1/2026), menyusul keputusan penyedia indeks global MSCI yang membekukan sementara perlakuan indeks terhadap saham-saham Indonesia.
Menanggapi situasi tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan akan terus melakukan komunikasi intensif dengan MSCI guna meredam dampak lanjutan terhadap pasar.
Corporate Secretary BEI Kautsar Primadi mengatakan, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah dan akan terus membuka ruang diskusi dengan MSCI.
“Terkait pengumuman MSCI pagi ini, OJK, IDX, dan KSEI akan terus melakukan diskusi dengan MSCI,” ujar Kautsar kepada wartawan, Rabu (28/1/2026).
Tekanan pasar langsung terasa sejak awal perdagangan. IHSG dibuka melemah tajam ke level 8.369,48, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap arah pasar modal nasional di mata investor global.
Kautsar menjelaskan, BEI sebelumnya telah melakukan sejumlah perbaikan, termasuk meningkatkan keterbukaan informasi dengan mempublikasikan data free float saham secara terbuka di situs resmi BEI.
“Namun apabila MSCI menilai hal tersebut belum mencukupi, kami akan terus berdiskusi terkait transparansi data sesuai proposal MSCI hingga tercapai kesepakatan,” katanya.
Sebagai informasi, dalam pengumuman resmi yang dirilis Selasa (27/1/2026) malam waktu GMT, MSCI menyatakan telah menyelesaikan konsultasi penilaian terhadap free float saham Indonesia. Meski mengakui adanya perbaikan minor dari BEI, MSCI menilai langkah tersebut belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran investor global terkait transparansi dan aksesibilitas pasar.
Sebagai langkah mitigasi risiko, MSCI memberlakukan interim freeze yang langsung berlaku. Kebijakan ini mencakup pembekuan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia, penghentian penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI, serta meniadakan potensi kenaikan kelas saham Indonesia di seluruh segmen indeks.
“Langkah ini diambil untuk membatasi risiko turnover indeks dan menjaga aspek investability,” tulis MSCI dalam pernyataannya.
Lebih jauh, MSCI juga memberi sinyal peringatan lanjutan. Jika tidak ada perbaikan signifikan dalam aspek transparansi dan akses pasar, Indonesia berpotensi menghadapi opsi ekstrem, mulai dari penurunan bobot di MSCI Emerging Markets hingga kemungkinan reklasifikasi dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Peringatan keras ini menjadi ujian serius bagi otoritas pasar modal Indonesia, di tengah upaya menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar di tengah dinamika global yang semakin ketat.
0 Komentar