KEDIRI, matacandra,online  – Gerimis yang turun perlahan di senja hari membawa aroma tanah basah ke Warung Kopi Maspu, Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri, Jawa Timur. Di kedai tanpa sekat yang berdampingan dengan rimbunan bambu itu, obrolan pengunjung bersahut-sahutan, berpadu dengan alunan musik lembut dari pemutar lagu elektronik.

Di Kediri, ngopi bukan sekadar minum kopi. Ia telah menjelma menjadi budaya, kebiasaan, bahkan tradisi. Dari kafe modern hingga warung rakyat, kopi menjadi medium perjumpaan. Salah satunya Warkop Maspu, yang berdiri sejak 2018 di wilayah selatan Kota Kediri, tak jauh dari Kampus UIN Syekh Wasil.

Bagi Ricky Alfandi (25), warkop bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah ruang jeda, tempat menghela napas dari rutinitas padat sebagai guru dan pegiat literasi.

“Ngopi di warkop itu penting untuk jeda dari aktivitas,” ujar Ricky, Minggu (1/2/2026).

Selain mengajar, Ricky aktif menulis artikel dan esai, serta mengorganisasi berbagai kegiatan literasi. Kopi menjadi teman setia yang membantunya menjaga fokus dan inspirasi. Bahkan, ia mengaku mengalokasikan anggaran khusus demi memenuhi kebutuhan kopinya.

“Sehari minimal dua cangkir. Kalau satu cangkir Rp 5.000, sebulan sudah berapa itu hanya untuk kopi,” katanya sambil tersenyum.

Tak hanya pekerja dan mahasiswa, warkop juga menjadi ruang belajar alternatif bagi pelajar. Izar Rosidah (17), siswi SMK teknik komputer, mengaku kerap mengerjakan tugas sekolah di Warkop Maspu.

“Kalau ada tugas, warkop adalah tujuannya,” ujar Izar yang akrab disapa Zaza.

Ia bahkan tertarik mendalami dunia barista. Kecintaannya pada kopi tumbuh sejak kecil, dikenalkan oleh sang paman. Kini, warkop menjadi tempatnya belajar, bersosialisasi, sekaligus bermimpi.

Warkop Maspu juga menjadi tempat lintas generasi bertemu. Makmun Afandi (57) hampir setiap sore datang untuk menyeruput kopi sambil berselancar di dunia maya.

“Ngopi di sini sambil internetan, buka YouTube, belajar sesuatu, cari hiburan,” katanya.

Berinteraksi dengan pengunjung yang lebih muda membuat Makmun merasa tetap terhubung dengan perkembangan zaman. “Biar tetap semangat muda,” ujarnya.

Di tengah menjamurnya kedai kopi di sekitar kampus—jumlahnya mencapai puluhan—Warkop Maspu tetap bertahan. Puguh, pemilik sekaligus pengelola, menilai kunci utamanya adalah kepercayaan pelanggan.

“Kami jaga kualitas kopi dan pelayanan. Semua kalangan kami terima, tanpa membeda-bedakan,” ujar Puguh.

Tak hanya berorientasi bisnis, Warkop Maspu juga aktif menjadi ruang kegiatan sosial. Dari santunan anak yatim hingga perayaan keagamaan, warkop ini berupaya menyeimbangkan kepentingan usaha dan tanggung jawab sosial.

Di Kediri, secangkir kopi di Warkop Maspu bukan hanya soal rasa. Ia adalah cerita, pertemuan, dan harapan yang terus diseduh—hari demi hari.