DENPASAR – Fenomena pengiriman gabah hasil panen petani Bali ke luar daerah dalam skala besar terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini mulai memicu kekhawatiran di kalangan pengusaha penggilingan padi lokal yang kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku guna memenuhi kebutuhan beras di tingkat wilayah.

Banyaknya gabah yang "terbang" ke luar pulau, seperti ke Jawa, disebabkan oleh tingginya tawaran harga dari pengepul luar daerah yang berani membeli di atas harga pasar lokal. Meskipun hal ini memberikan keuntungan finansial jangka pendek bagi para petani, dampak jangka panjangnya adalah berkurangnya aktivitas produksi pada fasilitas penggilingan padi di Bali yang kini banyak beroperasi di bawah kapasitas maksimal.

Ketidakseimbangan distribusi ini juga berpotensi memengaruhi stabilitas harga beras di pasar domestik Bali. Jika gabah terus keluar secara tidak terkendali, Bali dikhawatirkan akan kehilangan kemandirian stok pangan dan justru menjadi ketergantungan pada pasokan beras dari luar daerah dengan harga yang lebih tinggi. Pihak terkait terus memantau pergerakan ini guna merumuskan kebijakan yang mampu menyeimbangkan kesejahteraan petani dengan kedaulatan pangan daerah.

Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan diharapkan segera melakukan penguatan pada sistem resi gudang serta memberikan insentif bagi penggilingan lokal agar mampu bersaing secara harga. Pengawasan di titik-titik keluar masuk barang juga perlu ditingkatkan untuk memastikan ketersediaan cadangan pangan pemerintah daerah tetap dalam batas aman guna mengantisipasi gejolak harga di masa mendatang.(red)