KOTA KEDIRI, JAWA TIMUR – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi di wilayah Kediri pada bulan Februari 2026 mencapai 0,68 persen (m-to-m). Lonjakan ini dipicu secara dominan oleh kenaikan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi otoritas terkait, mengingat fluktuasi harga pangan di pasar tradisional maupun modern mulai memberikan tekanan pada daya beli masyarakat lokal di awal tahun ini.

Beberapa komoditas utama seperti beras, aneka cabai, dan daging ayam ras dilaporkan menjadi penyumbang utama andil inflasi. Faktor cuaca serta distribusi pasokan disinyalir menjadi penyebab belum stabilnya harga di tingkat pedagang. Meskipun beberapa kelompok pengeluaran lainnya cenderung stabil, tekanan dari sektor pangan yang cukup tinggi membuat angka inflasi bulanan ini merangkak naik jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Pemerintah Kota Kediri melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) kini tengah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menekan laju kenaikan harga tersebut. Upaya seperti operasi pasar murah dan pemantauan stok di gudang-gudang distributor terus diintensifkan guna memastikan ketersediaan barang. Hal ini dilakukan agar angka inflasi tetap berada dalam rentang sasaran pemerintah dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi regional di wilayah Jawa Timur bagian barat. (red)